Breaking

Longsor Kabupaten Malang Capai 75 Kejadian dalam 10 Bulan, Pujon Jadi Wilayah Paling Rawan

jed timo

3 November 2026

Longsor Kabupaten Malang Capai 75 Kejadian dalam 10 Bulan, Pujon Jadi Wilayah Paling Rawan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat 75 kejadian tanah longsor selama Januari hingga Oktober 2026.

malangcozycom – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat 75 kejadian tanah longsor selama Januari hingga Oktober 2026.

Kecamatan Pujon menjadi wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 13 kali.

Ancaman longsor perlu diwaspadai saat hujan meningkat.

Peringatan itu kembali relevan setelah hujan berintensitas tinggi memicu bencana di Kecamatan Tirtoyudo pada Sabtu dini hari, 31 Oktober 2026.

Peristiwa tersebut berdampak pada tiga desa dan puluhan rumah warga. Petugas melakukan pendataan dan penanganan.

Pujon Catat Kejadian Longsor Terbanyak

Berdasarkan catatan BPBD Kabupaten Malang yang diberitakan pada 2 November 2026, total 75 kejadian longsor tersebar di berbagai kecamatan selama sepuluh bulan pertama tahun ini.

Pujon menempati posisi tertinggi dengan 13 kejadian.

Angka tersebut menunjukkan perlunya perhatian terhadap kawasan perbukitan dan lereng yang memiliki risiko pergerakan tanah.

Baca juga: Kebakaran TPA Supit Urang, Ketua DPRD Kota Malang Desak Evaluasi Menyeluruh Sistem Keamanan

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, menjelaskan bahwa potensi longsor terdapat di berbagai wilayah, khususnya kawasan dengan karakteristik lereng.

Selain Pujon, wilayah Malang Barat seperti Ngantang dan Kasembon juga perlu diwaspadai.

Ancaman serupa terdapat di Malang Utara, Timur, hingga Selatan.

Lereng yang menerima curah hujan tinggi dapat mengalami peningkatan kejenuhan tanah.

Karena itu, warga di sekitar tebing dan perbukitan perlu memperhatikan perubahan kondisi lingkungan.

Tirtoyudo Terdampak Hujan Deras dan Longsor

Salah satu kejadian terbaru berlangsung di Kecamatan Tirtoyudo pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

Hujan deras memicu longsor, amblesan jalan, serta luapan air bercampur lumpur. Tiga desa terdampak, yaitu Tlogosari, Gadungsari, dan Tirtoyudo.

Laporan sementara BPBD menyebut sedikitnya 46 rumah terdampak.

Rinciannya, 16 rumah berada di Desa Tlogosari, sembilan rumah di Desa Gadungsari, dan 21 rumah di Desa Tirtoyudo. Kerusakan meliputi tembok jebol, bangunan ambruk, dan rumah terancam roboh.

Di Desa Tlogosari, satu rumah milik warga dilaporkan roboh total. Selain permukiman, akses transportasi juga terganggu.

Jalan penghubung Tlogosari menuju Jogomulyan terputus setelah gorong-gorong dan tembok penahan tanah mengalami kerusakan. Sejumlah ruas lain tertutup material longsor.

BPBD melaporkan tidak ada korban jiwa dalam rangkaian kejadian tersebut.

Namun, pendataan kerusakan dan kerugian masih dilakukan, sehingga angka kerugian di seluruh desa belum dapat dipastikan.

Penanganan darurat juga mencakup pemeriksaan kondisi bangunan, pembukaan akses, serta pemenuhan kebutuhan warga yang terdampak langsung.

Warga Diminta Meningkatkan Kesiapsiagaan

BPBD mengingatkan bahwa potensi longsor tidak hanya berada di Pujon atau Tirtoyudo.

Kawasan perbukitan di Malang Barat, Utara, Timur, dan Selatan juga memiliki titik rawan. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan ketika hujan deras berlangsung, khususnya jika tinggal di dekat lereng atau tebing.

Warga dapat memperhatikan tanda awal pergerakan tanah, seperti munculnya retakan baru, pohon atau tiang yang tiba-tiba miring, serta suara gemuruh dari arah lereng.

Jika menemukan tanda bahaya, masyarakat sebaiknya menjauh dari area berisiko dan segera melaporkannya kepada perangkat desa atau petugas terkait.

Pemerintah desa dan masyarakat juga perlu memastikan saluran air tidak tersumbat agar aliran hujan tidak terkonsentrasi pada satu titik lereng.

Langkah sederhana tersebut bukan jaminan mencegah longsor, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko.

Baca juga: Bara Api TPA Supit Urang Masih Tertanam hingga Kedalaman 3 Meter, Pemadaman Terus Dilakukan

Data 75 kejadian selama sepuluh bulan menunjukkan bahwa kesiapsiagaan perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Pemantauan wilayah rawan, penyampaian informasi yang cepat, dan koordinasi dengan BPBD menjadi penting untuk mengurangi dampak apabila bencana kembali terjadi.

Leave a Comment