malangcozycom – Pemerintah Kabupaten Malang mendorong pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) meningkatkan keterampilan dan daya saing melalui pelatihan kerajinan berbahan kain perca dan anyaman.
Program yang memanfaatkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) 2026 tersebut diikuti 100 pelaku usaha dan berlangsung pada 3–6 November 2026 di Cemara Ballroom, Kecamatan Singosari.
Kegiatan yang diinisiasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang ini diarahkan agar peserta mampu mengembangkan produk sesuai kebutuhan pasar.
Pelatihan tidak hanya berfokus pada kemampuan membuat kerajinan, tetapi juga mendorong kreativitas, kualitas produksi, dan peluang pemasaran.
Pelatihan Diikuti Pelaku IKM yang Sudah Berusaha
Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Budiar, membuka kegiatan tersebut pada Selasa, 3 November 2026.
Ia mengapresiasi upaya Disperindag yang menghadirkan pelatihan untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha lokal.
Dalam kegiatan ini, peserta berasal dari kalangan IKM yang telah menjalankan usaha kerajinan.
Materi pelatihan disusun sebagai pengembangan keterampilan, bukan semata pengenalan dasar.
Baca juga: Pohon Flamboyan Tumbang di Jalan Temenggung Suryo Malang, Akses Jalan Sempat Tertutup
Disperindag berharap peserta dapat menerapkan pengetahuan baru untuk meningkatkan kualitas produk dan mengembangkan usaha yang telah berjalan.
Kepala Bidang Industri Non Agro Disperindag Kabupaten Malang, Indra Anggraeni, menyebut pelatihan diarahkan pada pengembangan desain, motif, serta model produk yang mengikuti kebutuhan konsumen.
Peserta kerajinan anyaman diperkenalkan dengan variasi produk, termasuk tas dan perlengkapan sehari-hari.
Kain Perca Diolah Menjadi Produk Bernilai Jual
Pelatihan kain perca membuka peluang pemanfaatan sisa bahan tekstil dari kegiatan produksi.
Bahan yang sebelumnya kerap dianggap limbah dapat diolah menjadi barang fungsional dan memiliki nilai ekonomi.
Peserta mempelajari pembuatan sejumlah produk, seperti outer, sarung bantal dengan aplikasi kain perca, serta topi dengan desain yang lebih modern.
Materi mencakup teknik menjahit dan tahapan pengolahan bahan agar hasil akhir lebih rapi serta layak dipasarkan.
Sementara itu, pelatihan anyaman memberikan pengalaman mengembangkan bentuk, motif, dan bahan.
Peserta mempelajari teknik menggunakan rotan sintetis maupun bahan lainnya. Pengembangan desain diharapkan memberi pilihan produk yang lebih beragam bagi konsumen.
DBHCHT Dukung Penguatan Kapasitas IKM
Pemanfaatan DBHCHT dalam program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mendukung keterampilan dan produktivitas masyarakat.
Melalui pelatihan, pelaku usaha memperoleh kesempatan meningkatkan kemampuan produksi sekaligus mengenali peluang pengembangan produk.
Namun, peningkatan keterampilan perlu disertai langkah lanjutan agar manfaat pelatihan tidak berhenti setelah kegiatan selesai.
Peserta perlu memperhatikan konsistensi kualitas, penghitungan biaya produksi, pengemasan, dan penentuan harga yang sesuai.
Sekda Budiar juga mendorong pelaku IKM agar mulai memanfaatkan teknologi digital untuk memperkenalkan produk.
Foto produk yang baik, media sosial, platform perdagangan elektronik, dan identitas merek dapat membantu usaha menjangkau pasar yang lebih luas.
Pemasaran dan Pendampingan Jadi Tahap Berikutnya
Pengembangan IKM membutuhkan dukungan berkelanjutan.
Selain kemampuan membuat produk, pelaku usaha perlu akses pemasaran, jejaring kemitraan, dan pendampingan sesuai kebutuhan usaha.
Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, lembaga pelatihan, serta pelaku pasar dapat membantu memperkuat ekosistem produk lokal.
Produk kerajinan yang memiliki kualitas dan desain menarik berpotensi dipasarkan untuk kebutuhan sehari-hari, suvenir, maupun perlengkapan kegiatan.
Meski begitu, peluang tersebut tetap bergantung pada mutu produk, kapasitas produksi, serta kecocokan dengan permintaan konsumen.
Baca juga: Longsor di Tirtoyudo Sempat Tutup Jalan Raya Tlogosari, Akses Kini Kembali Dibuka
Melalui pelatihan berbasis DBHCHT ini, Pemkab Malang berharap 100 peserta dapat membawa pulang keterampilan yang bisa diterapkan dan dikembangkan.
Upaya menaikkan kelas IKM tidak cukup hanya melalui pelatihan singkat, tetapi perlu dilanjutkan dengan praktik, evaluasi, dan pemasaran yang konsisten.
Dengan demikian, kreativitas lokal diharapkan menjadi modal bagi usaha yang lebih mandiri dan berdaya saing.












