Breaking

Kebakaran TPA Supit Urang Meluas hingga 8 Hektare, Pemkot Malang Siapkan Metode Pemadaman Khusus

jed timo

24 October 2026

Kebakaran TPA Supit Urang Meluas hingga 8 Hektare, Pemkot Malang Siapkan Metode Pemadaman Khusus
Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Kota Malang, menjadi perhatian serius karena api merambat ke bagian dalam timbunan sampah dan menyulitkan proses pemadaman.

malangcozycom – Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Kota Malang, menjadi perhatian serius karena api merambat ke bagian dalam timbunan sampah dan menyulitkan proses pemadaman.

Pemerintah Kota (Pemkot) Malang bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menyiapkan metode khusus serta dukungan peralatan tambahan untuk menangani titik api yang meluas.

Berdasarkan laporan pada 22 Oktober 2026, area yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar delapan hektare dari kawasan sanitary landfill.

Kondisi ini membuat petugas perlu menerapkan strategi yang berbeda dari pemadaman kebakaran biasa, terutama karena bara api dapat bertahan di dalam tumpukan sampah meskipun bagian permukaannya telah disiram air.

Api di Dalam Timbunan Sampah Jadi Kendala Utama

Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin bersama jajaran terkait meninjau lokasi kebakaran pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi lapangan sekaligus mengidentifikasi kebutuhan peralatan yang dapat membantu mempercepat pemadaman.

Salah satu tantangan utama adalah titik api yang telah masuk ke bagian dalam timbunan sampah.

Penyemprotan air dari permukaan saja dinilai belum cukup untuk menjangkau seluruh bara yang tersembunyi.

Selain itu, material sampah yang terbakar, suhu tinggi, kondisi medan, dan angin kencang turut memengaruhi pekerjaan petugas.

Baca juga: Pembangunan Kampus II UB di Kepanjen Capai 50 Persen, Target Rampung Maret 2027

Asap yang dihasilkan juga berpotensi membahayakan petugas, relawan, serta masyarakat di sekitar lokasi.

Karena itu, penanganan membutuhkan perencanaan yang memperhitungkan posisi titik api, arah angin, ketersediaan air, serta keselamatan personel.

Petugas harus memastikan upaya pemadaman menjangkau sumber bara tanpa menambah risiko di lapangan.

Pemkot Kerahkan Peralatan Tambahan

Untuk mengatasi kendala tersebut, Pemkot Malang menyiapkan dua pendekatan utama, yaitu injeksi air ke dalam timbunan sampah dan penggunaan ekskavator untuk mengurai tumpukan yang menyimpan bara api.

Kedua metode ini ditujukan agar air dapat mencapai bagian yang terbakar dan petugas bisa menangani sumber api secara lebih efektif.

Teknik injeksi dilakukan dengan mengalirkan air ke bagian dalam timbunan, bukan hanya membasahi permukaan.

Sementara itu, ekskavator membantu membuka material sampah sehingga titik panas yang sulit dijangkau dapat ditangani.

Dukungan peralatan dan personel juga melibatkan berbagai pihak.

Dalam laporan penanganan hari ketiga pada 23 Oktober, armada pemadam dari Kota Malang, armada suplai air dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Damkar Kabupaten Malang, serta unsur militer dikerahkan untuk membantu operasi.

Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Koramil Sukun turut menyiagakan personel dan satu unit mobil pemadam kebakaran Kodim 0833/Kota Malang untuk mendukung pemantauan serta penanganan di lokasi.

Area Terdampak Bertambah, Petugas Fokus pada Titik Panas

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa luas area terdampak lebih besar daripada laporan awal.

Radar Malang melaporkan pada 24 Oktober 2026 bahwa kebakaran telah berdampak pada sekitar 14 hektare, terdiri atas delapan hektare di zona old landfill dan enam hektare di zona new landfill.

Data ini merupakan perkembangan dari laporan sebelumnya yang menyebut area terdampak sekitar delapan hektare.

Pada hari ketiga penanganan, titik api dengan intensitas tinggi masih ditemukan di bagian tengah zona old landfill.

Sementara itu, di sejumlah bagian lain, intensitas api dilaporkan menurun, meskipun titik panas dan kepulan asap masih terpantau.

Kondisi tersebut membuat petugas harus melanjutkan pemadaman sekaligus memastikan bara tidak kembali memicu kebakaran.

Pemantauan juga penting untuk mengantisipasi perubahan arah angin yang dapat memengaruhi penyebaran api dan asap.

Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang menyampaikan bahwa aktivitas penerimaan sampah masih dapat berlangsung dengan pengaturan lokasi penempatan.

Dalam kondisi kebakaran, pengelolaan operasional TPA menjadi penting agar pelayanan persampahan tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan petugas.

Keselamatan Warga dan Evaluasi Pencegahan

Kebakaran TPA Supit Urang bukan hanya persoalan pemadaman, tetapi juga berkaitan dengan dampak asap terhadap lingkungan sekitar.

Masyarakat diimbau tetap waspada, tidak mendekati area kebakaran, dan mengikuti arahan petugas yang berada di lapangan.

Pemerintah bersama instansi terkait perlu memastikan langkah penanganan mempertimbangkan keselamatan petugas dan warga, terutama selama titik panas masih ditemukan.

Informasi mengenai kondisi terkini juga perlu disampaikan secara berkala agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas apabila terdampak asap.

Setelah api berhasil dikendalikan, evaluasi terhadap sistem pencegahan kebakaran menjadi langkah penting.

Pemeriksaan area rawan, pemantauan kondisi timbunan sampah, pengelolaan gas, serta kesiapan sarana pemadam dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko kejadian serupa.

Hingga laporan terbaru pada 24 Oktober 2026, dukungan personel dan peralatan masih disiagakan untuk penanganan kebakaran.

Baca juga: Uji Coba MBG dengan Sistem Prasmanan di SMPN 1 Kepanjen, Penyajian Disebut Lebih Cepat

Karena itu, perkembangan kondisi di lapangan tetap perlu dipantau sebelum menyimpulkan bahwa seluruh titik api telah padam.

Catatan redaksi: Karena laporan terbaru pada 24 Oktober menyebut area terdampak mencapai 14 hektare, judul yang lebih sesuai untuk diterbitkan saat ini adalah “Kebakaran TPA Supit Urang Meluas hingga 14 Hektare, Pemadaman Masih Berlanjut.”

Leave a Comment