malangcozycom – Uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di SMP Negeri 1 Kepanjen, Kabupaten Malang, mendapat respons positif dari para siswa.
Model penyajian ini memungkinkan peserta didik memilih lauk dan mengambil makanan sesuai kebutuhan.
Selain dinilai membuat makanan lebih hangat dan segar, sistem tersebut juga berpotensi mengurangi makanan yang tidak dikonsumsi.
Uji coba yang berlangsung sejak 5 Oktober 2026 itu menjadi bagian dari proyek percontohan Badan Gizi Nasional (BGN).
Pelaksanaannya di SMPN 1 Kepanjen melibatkan 63 siswa dari kelas VIII A dan VIII B.
Hasil awalnya menjadi bahan evaluasi sebelum model serupa dipertimbangkan untuk diterapkan lebih luas.
Siswa Bisa Memilih Makanan dan Mengambil Secukupnya
Salah satu perbedaan utama sistem prasmanan dengan pembagian makanan dalam paket adalah keleluasaan siswa menentukan makanan yang ingin dikonsumsi.
Siswa dapat melihat pilihan menu terlebih dahulu, kemudian mengambil makanan sesuai selera dan kebutuhan.
Sejumlah siswa menyampaikan bahwa makanan terasa lebih nikmat ketika disajikan dalam kondisi hangat.
Mereka juga menilai sistem tersebut lebih praktis karena bisa menghindari lauk yang tidak disukai dan mengambil porsi sesuai kemampuan makan.
Respons penerima manfaat menjadi bagian penting dalam penilaian program MBG.
Pengalaman siswa dapat memberikan gambaran mengenai penerimaan menu, kenyamanan proses makan, serta kemungkinan makanan tersisa setelah waktu makan selesai.
Meski demikian, kebebasan memilih makanan tetap perlu diimbangi dengan edukasi gizi.
Siswa perlu memahami pentingnya mengonsumsi makanan beragam dan seimbang, bukan hanya mengambil menu berdasarkan selera.
Pendampingan dari guru dan petugas terkait dapat membantu memastikan tujuan pemenuhan gizi tetap menjadi prioritas.
Waktu Penyajian Disebut Lebih Singkat
Hasil pemantauan uji coba di SMPN 1 Kepanjen menunjukkan bahwa sistem prasmanan berpotensi mempercepat proses penyajian.
Berdasarkan laporan ANTARA pada 16 Oktober 2026, waktu penyajian yang sebelumnya dapat melebihi 30 menit berhasil dipangkas menjadi kurang dari 20 menit selama uji coba.
Efisiensi tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan ketika mengevaluasi mekanisme distribusi makanan di sekolah.
Waktu penyajian yang lebih singkat dapat membantu sekolah mengatur jadwal makan dan kegiatan belajar secara lebih tertib.
Namun, kecepatan pelayanan bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan.
Pengelola juga harus memastikan makanan tetap aman dikonsumsi, peralatan bersih, serta proses penyajian berjalan sesuai prosedur.
Antrean siswa, kapasitas ruang makan, jumlah petugas, dan ketersediaan peralatan perlu disesuaikan dengan jumlah penerima manfaat.
Kondisi setiap sekolah juga berbeda. Karena itu, sistem prasmanan tidak dapat diterapkan secara seragam tanpa mempertimbangkan kesiapan dapur penyedia, sarana sekolah, dan karakteristik siswa.
Kualitas Makanan dan Keamanan Pangan Tetap Jadi Perhatian
Model prasmanan dirancang untuk menjaga makanan tetap hangat dan mengurangi jeda antara proses memasak dengan konsumsi.
BGN menyebut pengembangan model penyajian ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan MBG.
Sistem tersebut juga membutuhkan kesiapan dapur, sekolah, tenaga pendamping, dan peralatan yang sesuai.
Pengendalian suhu makanan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.
Makanan yang telah dimasak harus ditangani dan disajikan dengan prosedur yang tepat agar kualitas serta keamanannya tetap terjaga.
Petugas juga perlu memastikan wadah penyajian terlindungi dan peralatan makan dibersihkan sesuai ketentuan.
Selain keamanan pangan, variasi menu dan kecukupan gizi tetap menjadi hal mendasar.
Pilihan makanan yang tersedia sebaiknya memenuhi kebutuhan gizi siswa dan mempertimbangkan keragaman bahan pangan.
Sistem prasmanan tidak otomatis menjamin menu lebih bergizi apabila komposisi makanan dan porsinya tidak direncanakan dengan baik.
Oleh sebab itu, evaluasi perlu mencakup proses dari dapur hingga makanan dikonsumsi siswa.
Pemantauan tersebut dapat membantu mengidentifikasi kendala, mulai dari distribusi, suhu makanan, kecukupan porsi, hingga kebiasaan siswa saat mengambil dan menghabiskan makanan.
Evaluasi Menjadi Dasar Pengembangan Program
Uji coba di SMPN 1 Kepanjen berakhir pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Selama pelaksanaan, masukan siswa dan pengamatan terhadap proses penyajian menjadi bahan untuk menilai kelebihan maupun kekurangan model prasmanan.
Jumlah peserta yang masih terbatas membuat hasil uji coba perlu dibaca sesuai konteksnya.
Pengalaman dari 63 siswa dapat memberikan gambaran awal, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa mekanisme yang sama akan selalu efektif di semua sekolah.
Kondisi ruang makan, jumlah siswa, kemampuan petugas, serta jarak distribusi makanan dapat memengaruhi hasil pelaksanaan.
BGN perlu menggunakan hasil evaluasi untuk menentukan aspek yang perlu diperbaiki sebelum memperluas penerapan.
Sekolah yang berminat menggunakan model ini juga perlu memastikan kesiapan sarana dan tenaga pendamping.
Pelatihan bagi pihak yang terlibat dapat membantu menjaga standar layanan dan mencegah munculnya persoalan baru.
Bagi Kabupaten Malang, uji coba tersebut memberikan pengalaman untuk menilai inovasi penyajian MBG berdasarkan kondisi nyata di sekolah.
Pengembangan selanjutnya perlu mempertimbangkan manfaat bagi siswa sekaligus kemampuan pelaksana menjaga keamanan pangan dan memenuhi standar gizi.
Pada akhirnya, keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukan oleh cara makanan disajikan.
Baca juga: Pembangunan Kampus II UB di Kepanjen Capai 50 Persen, Target Rampung Maret 2027
Kualitas bahan pangan, kandungan gizi, ketepatan distribusi, kebersihan, dan penerimaan siswa harus berjalan beriringan.
Sistem prasmanan dapat menjadi salah satu pilihan apabila hasil evaluasi menunjukkan manfaat yang nyata dan seluruh persyaratan pelaksanaannya dapat dipenuhi.












