Breaking

Kampung Cempluk Festival ke-16 Jadi Penggerak Ekonomi Lokal, UMKM dan Pertanian Kabupaten Malang Disorot

jed timo

20 October 2026

Kampung Cempluk Festival ke-16 Jadi Penggerak Ekonomi Lokal, UMKM dan Pertanian Kabupaten Malang Disorot
Kampung Cempluk Festival ke-16 di Dusun Sumberejo, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, menjadi ruang pertemuan antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi masyarakat.

malangcozycom – Kampung Cempluk Festival ke-16 di Dusun Sumberejo, Desa Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, menjadi ruang pertemuan antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi masyarakat.

Kegiatan yang dibuka pada Minggu, 18 Oktober 2026, tersebut turut mengangkat potensi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sektor pertanian hortikultura sebagai peluang untuk meningkatkan kesejahteraan warga.

Festival tahun ini mengusung tema “Bumi Adikarya Paramarta”.

Selain menjadi ruang ekspresi seni dan budaya, kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana kreativitas masyarakat dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Budiar, yang hadir dalam pembukaan festival, mendorong agar potensi lokal dikelola secara berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Festival Budaya dan Ruang Tumbuh Ekonomi Warga

Kampung Cempluk Festival bukan hanya agenda hiburan tahunan. Kegiatan ini juga menjadi sarana menjaga tradisi, mempertemukan lintas generasi, dan memperkuat kebersamaan warga.

Pelibatan pemerintah desa, komunitas, seniman, budayawan, pelaku usaha, serta unsur masyarakat menunjukkan bahwa pengembangan wilayah dapat berjalan beriringan dengan pelestarian identitas lokal.

Dalam kesempatan tersebut, Budiar mengapresiasi kreativitas warga Dusun Sumberejo yang mengolah potensi lingkungan menjadi berbagai produk. Di antaranya kopi rempah gula aren, jamu tradisional, serta kuliner khas seperti tiwul dan cenil.

Baca juga: Polresta Malang Kota Perkuat Keamanan Kampung, Pencurian Motor hingga Longsor Jadi Perhatian Warga

Produk-produk tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi tidak selalu harus dimulai dari usaha berskala besar.

Pengetahuan lokal, bahan baku yang tersedia, dan kemampuan masyarakat mengolahnya dapat menjadi modal awal membangun usaha.

Agar peluang itu berkembang, produk lokal perlu didukung peningkatan mutu, kemasan yang layak, konsistensi produksi, serta pemasaran yang menjangkau konsumen lebih luas.

Festival dapat membantu memperkenalkan produk kepada pengunjung, tetapi keberlanjutan usaha tetap bergantung pada kemampuan pelaku UMKM menjaga kualitas dan memenuhi kebutuhan pasar setelah acara berakhir.

Pemkab Malang Fasilitasi Legalitas UMKM

Salah satu dukungan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut adalah fasilitasi pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) secara gratis bagi pelaku UMKM di Dusun Sumberejo.

Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) akan memberikan pelayanan jemput bola dengan mendatangi desa.

Legalitas usaha menjadi langkah penting agar pelaku UMKM memiliki identitas usaha yang tercatat dan lebih mudah mengakses layanan pembinaan.

Namun, kepemilikan NIB bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan. Pelaku usaha juga perlu memperhatikan pencatatan keuangan, standar kebersihan, informasi produk, serta pengelolaan stok dan pesanan.

Pendampingan berkelanjutan dapat membantu warga memahami manfaat legalitas sekaligus memanfaatkannya untuk mengembangkan usaha.

Pemerintah desa dan perangkat daerah dapat berperan dalam menyampaikan informasi persyaratan, mendampingi proses pengajuan, serta menghubungkan pelaku usaha dengan program pelatihan dan pemasaran yang tersedia.

Melon Kirin dan Jeruk Punya Tantangan Berbeda

Selain UMKM, Dusun Sumberejo memiliki potensi hortikultura, terutama melon Kirin dan jeruk.

Melon Kirin dari wilayah tersebut dilaporkan dapat mencapai harga Rp38.000 per kilogram ketika dipasarkan melalui jaringan supermarket di Jakarta.

Nilai jual tersebut menunjukkan adanya peluang bagi petani yang mampu menjaga kualitas dan memenuhi standar pasar modern.

Di sisi lain, petani jeruk masih menghadapi fluktuasi harga, terutama saat panen raya. Harga di tingkat petani dapat turun hingga Rp4.000 per kilogram ketika pasokan melimpah.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan hasil panen saja belum tentu meningkatkan pendapatan jika tidak disertai pengelolaan pascapanen, akses pasar, dan strategi menjaga nilai produk.

Salah satu gagasan yang didorong adalah membuka peluang investasi untuk membangun pabrik pengolahan minuman berbahan dasar jeruk di Sumberejo.

Pengolahan hasil pertanian berpotensi memperluas pilihan produk, meningkatkan nilai tambah, serta membantu menyerap hasil panen ketika produksi sedang tinggi.

Meski demikian, rencana tersebut membutuhkan kajian kelayakan, ketersediaan bahan baku, standar mutu, kebutuhan investasi, dan kepastian pasar.

Tanpa perencanaan yang matang, pembangunan fasilitas pengolahan belum tentu menyelesaikan persoalan harga yang dihadapi petani.

Karena itu, keterlibatan petani dan calon mitra usaha perlu diperhitungkan sejak tahap perencanaan.

Kolaborasi Menentukan Keberlanjutan

Pengembangan potensi desa membutuhkan kerja sama lebih panjang daripada penyelenggaraan satu festival.

Petani, pelaku UMKM, pemerintah desa, perangkat daerah, komunitas, dan calon mitra usaha perlu memiliki tujuan yang sejalan.

Petani dapat memperkuat kualitas dan jadwal produksi, sedangkan pelaku usaha mengembangkan pengolahan, kemasan, serta saluran distribusi.

Pemetaan kebutuhan juga penting agar dukungan yang diberikan sesuai dengan persoalan di lapangan.

Bagi UMKM, tantangannya dapat berupa legalitas, permodalan, kualitas produk, atau pemasaran.

Sementara itu, petani mungkin membutuhkan dukungan terkait stabilitas harga, penyimpanan, pengolahan, dan akses pembeli.

Setiap persoalan memerlukan langkah berbeda sehingga program pendampingan perlu disusun berdasarkan kondisi nyata masyarakat.

Kampung Cempluk Festival ke-16 memperlihatkan bahwa budaya dan ekonomi lokal dapat berjalan beriringan.

Baca juga: Pemerintah Perkuat Ekonomi Nelayan Lewat Kampung Nelayan Merah Putih, Apa Dampaknya bagi Masyarakat Pesisir?

Kreativitas warga menjadi dasar bagi tumbuhnya produk unggulan, sementara pertanian menyediakan potensi bahan baku dan peluang usaha lanjutan.

Tantangan berikutnya adalah memastikan peluang tersebut berlanjut melalui legalitas, peningkatan kualitas, pengolahan hasil, dan perluasan pasar.

Dengan pendekatan yang konsisten, festival dapat menjadi momentum untuk memperkuat jejaring usaha dan memperkenalkan potensi Dusun Sumberejo kepada khalayak lebih luas.

Keberhasilannya tidak hanya diukur dari ramainya acara, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut membantu warga menjaga tradisi, meningkatkan daya saing produk, dan memperluas manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Leave a Comment