malangcozycom – Aktivitas pariwisata Kota Malang menunjukkan perkembangan positif sepanjang 2026.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang memperlihatkan pergerakan wisatawan nusantara dan tingkat penghunian kamar hotel mengalami dinamika yang menarik, terutama ketika kota menggelar berbagai agenda.
Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas wisata tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan mobilitas masyarakat dan penyelenggaraan kegiatan di berbagai sektor.
Kunjungan Wisatawan Nusantara di Kota Malang Meningkat
Pada Juli 2026, jumlah wisatawan nusantara yang menjadikan Kota Malang sebagai tujuan perjalanan mencapai 935 ribu kunjungan.
Angka tersebut meningkat 3,09 persen dibandingkan Juni 2026 dan tumbuh 3,89 persen dibandingkan Juli 2025. Data itu disampaikan BPS Kota Malang melalui Berita Resmi Statistik yang dirilis pada 1 September 2026.
Kenaikan tersebut memperlihatkan pasar wisata domestik tetap memiliki peran penting bagi aktivitas pariwisata daerah.
Pada periode yang sama, perjalanan wisatawan nusantara asal Kota Malang tercatat 894 ribu kunjungan. Jumlah itu turun 3,18 persen dibandingkan Juni 2026, tetapi meningkat 15,39 persen dibandingkan Juli 2025.
Jika melihat periode sebelumnya, tren kunjungan juga sudah terlihat.
Pada Mei 2026, wisatawan nusantara tujuan Kota Malang mencapai sekitar 908 ribu kunjungan, naik 6,65 persen secara bulanan.
Baca juga: 2,6 Juta Wisatawan Sudah Kunjungi Kota Malang hingga Juli 2026
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa jumlah kunjungan dapat berubah mengikuti momentum dan aktivitas yang berlangsung di kota.
Okupansi Hotel Ikut Mengalami Kenaikan
Pergerakan wisatawan turut berkaitan dengan aktivitas akomodasi. Pada Juli 2026, tingkat penghunian kamar (TPK) seluruh hotel di Kota Malang mencapai 48,01 persen.
Namun, angka tersebut turun 3,78 poin dibandingkan Juni dan 0,56 poin dibandingkan Juli 2025.
Kondisinya berbeda pada hotel berbintang. TPK hotel bintang mencapai 60,22 persen, naik 1,65 poin secara bulanan dan 2,31 poin secara tahunan.
Sementara TPK hotel nonbintang dan akomodasi lainnya berada di angka 35,75 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kunjungan wisatawan tidak selalu membuat seluruh indikator perhotelan meningkat pada periode yang sama.
Faktor musim, karakter perjalanan, jenis akomodasi, dan agenda kota dapat memengaruhi tingkat hunian.
Pada Juli, rata-rata lama menginap tamu mencapai 1,38 hari. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata Jawa Timur sebesar 1,24 hari.
Tamu hotel juga masih didominasi wisatawan nusantara dengan porsi 95,88 persen.
Event dan Destinasi Jadi Penggerak Pariwisata
BPS Kota Malang mengaitkan mobilitas wisatawan dengan berbagai momentum dan kegiatan yang berlangsung di daerah.
Pada Juli 2026, sejumlah agenda seperti Festival Genitri Tempo Doeloe, Brawijaya Street Food Festival, Kedungkandang Tempoe Doeloe, Tong-Tong Night Market, dan Indomaret Fun Run turut mewarnai aktivitas kota.
Sebelumnya, pada Mei 2026, mobilitas masyarakat juga dipengaruhi sejumlah momentum, termasuk Hari Buruh Internasional, Waisak, Iduladha, event olahraga, konser musik, otomotif, serta pertemuan organisasi.
Ragam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa event dapat menjadi salah satu penggerak perjalanan menuju Kota Malang.
Pemerintah Kota Malang juga mendorong konsep sport tourism.
Event olahraga diharapkan tidak berhenti sebagai kompetisi, tetapi dapat membuka kesempatan bagi peserta dan pendamping untuk menikmati destinasi, kuliner, serta produk lokal.
Kenaikan Wisnus Beri Dampak ke Ekonomi Lokal
Meningkatnya mobilitas wisatawan menciptakan peluang bagi berbagai sektor pendukung.
Hotel menjadi salah satu bagian yang berkaitan dengan kebutuhan akomodasi, sementara restoran, transportasi, pusat kuliner, destinasi wisata, dan UMKM juga dapat memperoleh manfaat ketika kunjungan meningkat.
Pemerintah Kota Malang menyebut berbagai event dapat memberikan multiplier effect bagi masyarakat.
Peserta dan pendamping dari luar daerah berpotensi menggunakan jasa penginapan, menikmati kuliner, mengunjungi destinasi, serta membeli produk unggulan lokal.
Namun, dampak ekonomi perlu dilihat berdasarkan kondisi masing-masing event dan periode.
Kenaikan kunjungan tidak otomatis berarti seluruh pelaku usaha memperoleh manfaat dengan besaran yang sama.
Karena itu, keterlibatan UMKM dan pelaku pariwisata menjadi bagian penting agar perputaran ekonomi lebih luas.
Strategi Kota Malang Menjaga Tren Positif Pariwisata
Penguatan kalender event menjadi salah satu langkah yang dapat menjaga aktivitas wisata tetap bergerak.
Pemerintah Kota Malang melalui program 1.000 event mendorong berbagai kegiatan olahraga, budaya, ekonomi kreatif, dan komunitas agar menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung.
Selain memperbanyak kegiatan, kualitas destinasi dan pengalaman wisata juga perlu diperhatikan.
Informasi yang mudah diakses, layanan yang baik, serta kolaborasi antara pemerintah, pengelola destinasi, hotel, komunitas, dan UMKM dapat membantu menciptakan pengalaman lengkap.
Dengan pasar domestik yang masih dominan, promosi wisata Kota Malang dapat terus diarahkan pada wisatawan nusantara.
Data BPS menunjukkan bahwa aktivitas tersebut menjadi penopang penting sektor pariwisata.
Baca juga: Bukan Cuma Jatim Park, Ini 5 Destinasi Wisata Menarik di Kota Batu
Tantangannya adalah menjaga agar kenaikan kunjungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas layanan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.














