malangcozycom – Kuliner Indonesia tidak hanya menjadi bagian dari kekayaan budaya, tetapi juga memiliki peluang untuk berkembang sebagai bisnis di luar negeri.
Di Belanda, diaspora Indonesia menjadi salah satu penggerak usaha kuliner Nusantara, sementara BNI memberikan dukungan pembiayaan dan koneksi bisnis agar usaha tersebut tumbuh lebih kuat.
BNI Dorong Diaspora Indonesia Perkenalkan Kuliner Nusantara di Belanda
Dukungan BNI terhadap diaspora terlihat melalui program Diaspora Loan yang ditujukan untuk membantu pelaku usaha Indonesia di luar negeri.
Salah satu penerimanya adalah VOF Waroeng Padang Lapek di Den Haag.
Pada Oktober 2025, BNI memberikan fasilitas kredit baru senilai EUR 228.750 atau sekitar Rp3,9 miliar untuk membantu restoran tersebut membeli properti sebagai central kitchen.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa kuliner dapat menjadi jalur bagi diaspora untuk memperkenalkan identitas Indonesia sekaligus membangun kegiatan ekonomi.
Waroeng Padang Lapek menyajikan masakan khas Minang, sehingga turut membawa cerita kuliner daerah Indonesia ke konsumen di Belanda.
Peluang pasar tersebut juga terlihat dari pengalaman pelaku usaha lain.
BNI mencatat restoran Nona Manis di Oegstgeest menawarkan hidangan Indonesia dengan konsep set course menu, termasuk karedok, Soto Kudus, ikan arsik, ikan mangut, nasi ulam, dan siomay Bandung.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pengusaha diaspora dapat mengemas masakan Nusantara dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter pasar setempat tanpa menghilangkan identitas hidangannya.
Diaspora Menjadi Penghubung Kuliner Indonesia dengan Pasar Global
Diaspora mempunyai posisi strategis karena memahami dua lingkungan sekaligus: budaya asal dan kondisi masyarakat di negara tempat tinggal.
Pengetahuan mengenai selera konsumen, kebiasaan makan, harga, serta pola bisnis lokal dapat membantu pengusaha menentukan cara yang tepat untuk memperkenalkan makanan Indonesia.
BNI Amsterdam juga melihat potensi bisnis yang berkaitan dengan Indonesia di Belanda, termasuk kuliner.
BNI juga menghubungkan pelaku usaha dengan sumber bahan baku dari Indonesia melalui business matching dan Xpora.
Model tersebut dapat mempertemukan restoran diaspora dengan pemasok produk Indonesia.
Contohnya terlihat pada Nesia Food, perusahaan importir bahan makanan Indonesia di Belanda.
Melalui business matching BNI, perusahaan tersebut dipertemukan dengan CV Hugo Inovasi dari Banyumas sebagai pemasok gula aren.
Produk tersebut kemudian digunakan sebagai bahan dalam hidangan restoran Indonesia milik diaspora.
BNI menyebut kerja sama itu turut membuka akses ekspor bagi produk UMKM Indonesia.
Rantai tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan kuliner di luar negeri dapat memberikan efek lebih luas.
Ketika restoran membutuhkan bahan khas Indonesia, peluang dapat terbuka bagi produsen, pemasok, hingga UMKM.
Dengan demikian, usaha diaspora tidak hanya menjadi tempat menikmati makanan Indonesia, tetapi juga dapat menjadi bagian dari jaringan perdagangan yang menghubungkan pasar Indonesia dan Eropa.
Pembiayaan penting karena ekspansi restoran membutuhkan modal.
Dalam kasus Waroeng Padang Lapek, hubungan dengan BNI telah berlangsung sejak 2022.
Pembiayaan awal digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi sebelum fasilitas baru untuk central kitchen.
Baca juga: Kuliner Indonesia Jadi Inspirasi Pin Crocs, Hadirkan Ikon Makanan Nusantara
Kuliner Nusantara sebagai Sarana Promosi Budaya
Makanan mempunyai kekuatan untuk memperkenalkan Indonesia melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Restoran Indonesia di Belanda dapat menjadi ruang pertemuan antara masyarakat lokal, diaspora, dan konsumen.
Setiap menu membawa unsur daerah dan cerita mengenai asal makanan.
Karena itu, pengembangan kuliner diaspora memiliki dimensi ekonomi sekaligus budaya.
Ketika makanan Indonesia semakin dikenal, kesempatan memperkenalkan keragaman Nusantara juga ikut terbuka.
BNI sebelumnya menyatakan dukungan terhadap usaha diaspora merupakan bagian dari upaya membantu bisnis Indonesia berkembang secara global dan memperkenalkan budaya Indonesia di luar negeri.
Peluang Memperluas Ekosistem Bisnis Indonesia
Peluang kuliner Indonesia di Belanda tidak berhenti pada restoran.
Kebutuhan bahan baku dapat menciptakan ruang bagi eksportir, produsen makanan, UMKM, dan pelaku logistik untuk terhubung dengan pasar luar negeri.
Pemanfaatan jaringan diaspora dapat menjadi salah satu cara untuk memahami kebutuhan pasar dan membangun hubungan bisnis.
Bagi pelaku usaha, keberadaan diaspora juga dapat menjadi sumber pengetahuan mengenai regulasi, preferensi konsumen, serta peluang kerja sama.
Jaringan tersebut membantu produk Indonesia menemukan pasar baru dengan pendekatan yang lebih dekat dan relevan secara lebih luas.
Ke depan, kualitas produk, konsistensi rasa, kemampuan beradaptasi, dan kepatuhan terhadap ketentuan pasar menjadi faktor penting bagi pelaku usaha.
Dukungan pembiayaan juga perlu berjalan bersama pendampingan serta koneksi bisnis.
Kolaborasi antara diaspora, BNI, UMKM, pemasok, dan berbagai pemangku kepentingan dapat memperkuat rantai bisnis tersebut.
Pengalaman restoran diaspora di Belanda menunjukkan bahwa kuliner Nusantara memiliki ruang untuk berkembang ketika kekuatan budaya dipadukan dengan pengelolaan usaha yang profesional.
Bagi Indonesia, perkembangan itu membuka peluang agar cita rasa daerah tidak hanya dikenal sebagai warisan kuliner, tetapi juga hadir sebagai produk yang mampu bersaing di pasar internasional.
Baca juga: Promo HUT RI 2026 The Alana Malang, Ada Paket Menginap dan Kuliner Nusantara














